Beauty

Searching...
18 October 2011

Asal Usul Istilah Sinetron

October 18, 2011
ISTILAH sinetron mulai populer di akhir 80-an. Di masa itu TVRI sebagai satu-satunya stasiun TV bahkan punya acara unggulan yang dilabeli Sepekan Sinetron.

si-doel-anak-sekolahan

Selama sepekan penuh TVRI (bagian dari perayaan ulang tahunnya setiap tanggal 24 Agustus) menayangkan sinetron dengan judul dan karya sutradara berbeda. Ada sutradara TVRI, kadang juga melibatkan sutradara dari luar TVRI. Nama-nama sutradara TVRI seperti Dedi Setiadi, Irwinsyah (almarhum), Encep Masduki, Wijayanto, dll jadi populer seiring popularitas sinetron. Pada kurun waktu itu sinetron menjadi acara andalan dan nyaris identik dengan TVRI.

Dengan kegairahan yang mengesankan TVRI mengundang penulis-penulis terkenal untuk terlibat dalam produksi sinetron mereka. Aneka judul sinetron dengan cerita yang sangat variatif, membumi, bisa kita saksikan di TVRI. Puncak sukses TVRI dengan program sinetron salah satunya ditandai dengan keberhasilan mereka mengangkat kisah novel populer seperti Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat ke dalam format sinetron.

Saking populernya acara Sepekan Sinetron TVRI, media cetak yang biasanya tak peduli dengan acara TVRI ikut-ikutan mengulas. Saat era TV swasta datang, TVRI sebetulnya tengah berbulan madu dengan program unggulan sinetron. Mungkin karena itu lalu banyak wartawan bertanya, apakah TV swasta juga akan menayangkan sinetron? Ketika pertanyaan ini saya ajukan ke salah satu manajer program TV swasta yang ketika itu baru lahir, sang manajer program malah balik bertanya, apa itu sinetron? Setelah saya jelaskan dengan agak sedikit bertele-tele, sang manajer program pun faham dan lalu berucap, “Oo maksud Anda TV play.”

siti-nurbaya

Situ Nurbaya (dok.ist.)

Istilah TV play memang sempat populer di Amerika sebelum muncul istilah MTV (movie for television). Berbeda dengan soap opera yang ceritanya bersambung, MTV dibuat dengan standar film bioskop tapi khusus untuk tayangan TV. Ada pula istilah miniseri untuk tayangan cerita bersambung tapi hanya beberapa episode.

Tapi sekarang yang banyak dipakai hanya series untuk film TV berseri. Rupanya sang manajer program TV swasta itu belum ngeh kalau istilah sinetron saat itu sudah populer. Selain lewat TVRI juga dipopulerkan oleh tabloid Monitor, tabloid yang secara khusus membahas acara TV dan bertiras sangat besar: lebih dari 500 ribu eksemplar. Rasanya di era internet sekarang sudah tidak ada lagi tabloid dengan tiras sebesar itu.

TVRI dengan Sepekan Sinetron-nya dan tabloid Monitor dengan konsistensinya menyebut sinetron untuk kategori acara yang dulu dikenal dengan nama serial atau drama TV, bolehlah disebut sebagai pihak yang mempopulerkan istilah sinetron.

Tapi siapa orang atau lembaga yang pertama kali menciptakan istilah sinetron?

Saya coba menanyakan ini pada Arswendo Atmowiloto, sastrawan dan pengamat pertelevisian paling tajam di masanya yang sekaligus juga pemimpin redaksi tabloid Monitor dan disebut-sebut sebagai pencipta istilah sinetron. Selain menulis kritik yang bagus seputar acara TVRI Arswendo juga banyak terlibat dalam produksi sinetron di TVRI.

Salah satu karyanya yang populer, Jendela Rumah Kita (JRK). Saat JRK tayang sepertinya istilah sinetron belum populer. Saat itu JRK masih disebut sebagai serial, seperti serial Losmen, serial Pondokan, serial Kartika, serial Keluarga Rahmat atau serial Rumah Masa Depan. Judul-judul itu belum disebut sebagai sinetron.

Jadi Arswendo-kah yang menciptakan istilah sinetron? “Seingat saya, ya saya,” kata Arswendo. “Singkatan dari sinema elektronika. Dibuat menggunakan bahan baku non pita film. Istilah Monitron juga dari sini. Tapi Harmoko (Menteri Penerangan ketika itu) atau Deppen (Departemen penerangan) tidak setuju. Terus saya ganti dengan Piala Vidia,” tambahnya.

Piala Vidia adalah acara tahunan pemberian penghargaan pada sinetron yang dianggap berkualitas, semacam FFI-nya sinetron. Sayang acara ini tak berjalan rutin, kadang ada, sering tidak ada, kadang nempel di FFI, tidak berdiri sendiri. Ketika booming telenovela di awal 90-an (saat itu istilah sinetron sudah populer), Arswendo juga mencoba memperkenalkan istilah baru: sinemeks, singkatan dari sinetron Meksiko (Saat itu telenovela yang tayang kebanyakan dari Meksiko).

jin-jun

Sinetron Jin dan Jun. (dok.ist.)

Tapi karena kemudian telenoveola yang tayang di sini tak hanya dari Meksiko, juga dari Venezuela, istilah sinemeks kurang pas, mungkin karena itu istilah ini gagal popoler.

Selain pada Arswendo saya juga menanyakan hal yang sama pada sutradara Dedi Setiadi yang dulu pernah jadi salah satu sutradara terbaik di TVRI. Menurut ingatan Dedi, istilah sinetron itu berawal dari sebuah artikel di Kompas Minggu yang membahas proses pembuatan film Apocalypse Now karya sutradara Francis Ford Coppola. Saat membuat film itu, meski menggunakan pita seluloid Coppola juga melihat hasil gambar lewat recorder elektronik, tidak di view finder.

“Dari situlah Pak Sandy Tyas (almarhum, salah satu pembawa acara TVRI yang sangat populer) di acara Apresiasi Film Indonesia menyebut FTV atau drama TV sebagai sinema elaktronika (sinetron),” kata Dedi sambil coba mengingat-ingat.

Masih ingat acara Apresiasi Film Indonesia dengan opening layar terbuka terus terdengar Sam Bimbo menyanyi, Aku cinta, Anda cinta buatan Indonesia.....(Dulu sering diplesetkan, Indonesia diganti Amerika). Terlepas dari siapa yang menciptakan, Arswendo atau orang lain, Dedi Setiadi sepakat istilah sinetron mulai populer bersamaan dengan program Sepekan Sinetron TVRI di akhir 80-an. Dilihat dari kurun waktu pembuatan Apocalypse Now (tahun 1979) dan diputar di Indonesia di awal 80-an memang agak jauh dengan era booming sinetron di akhir 80-an.

Sayang Dedi tidak ingat persis kapan artikel di Kompas Minggu itu dimuat. Dedi malah tertarik mengoreksi penggunaan istilah sinetron yang menurutnya salah kaprah. “Sinema elektronika itu istilah salah kaprah. Nanti ada sinema digital dong, terus kalau ditemukan alat perekam baru, sinema apalagi?” tanya Dedi masgul.

Selain Arswendo Atmowiloto, ada nama lain yang di beberapa artikel di internet disebut sebagai penemu istilah sinetron. Di adalah Soemardjono, salah satu pendiri dan pengajar di Isntitut Kesenian Jakarta.

Jadi siapa yang pertama kali memakai istilah sinetron? Anda punya referensi lain? Sekedar sharing pendapat. Menurut hemat saya di awal kemunculannya sinetron sebetulnya membawa spirit yang sangat Indonesia. Spirit itu bisa dilacak dari tema-tema yang diangkat dalam sinetron di era TVRI, sangat membumi dengan cerita, setting juga dialog yang sangat otentik. Sekedar menyebut satu judul, Sayekti dan Hanafi. Sinetron yang diinspirasi kisah nyata tentang penarik becak yang tak mampu membayar biaya persalinan istrinya ini tak hanya sukses ketika ditayang, tapi juga bisa menyentakkan kesadaran kita. Tragedi ini berhasil membuat kita dibuat terlibat.

Agak disayangkan dalam perkembangannya sinetron justru tergoda menjadi mirip telenovela atau serial korea. Sinetron (salah kaprah atau tidak) istilah yang sangat Indonesia, karena itu mestinya juga dengan cerita dan kemasan yang khas Indonesia. Jadi rindu sama Sepekan Sinetron TVRI. Masih ada enggak, sih? Sayang yah, saat sinetron menjadi industri dengan nilai ekonomi yang besar TVRI sebagai pelopor malah tak ikut menikmati.

0 comments: